Kamis, 22 Juli 2010






Rabu, 07 Juli 2010

STANDAR KOMPETENSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH DASAR

PENELITIAN ILMIAH

STANDAR KOMPETENSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SEKOLAH DASAR

TAHUN PELAJARAN 2010/ 2011

OLEH

USUP YUSUP

POPULASI PENELITIAN MELIPUTI SEKOLAH DASAR

STANDAR KOMPETENSI PAI YANG BERCIRI KHAS ISLAM









5 = SANGAT BESAR 4 = BESAR 3 = SEDANG 2 = KECIL 1 = SANGAT KECIL

No.

PERTANYAAN PERTANYAAN

Alternatif Jawaban

5

4

3

2

1

1

Berapa Besar pengaruh Agama Islam terhadap kepribadian muslim dalam kehidupan sehari-hari di SD






2

Berapa besar pengaruh lulusan keberhasilan siswa-siswi SD terhadap kepribadian akhlakul karimah






3

Apakah masing-masing kompetensi PAI sudah mencerminkan kemampuan dasar tentang ilmu, iman dan amal secara integrasi dalam kehidupan sehari - hari






4

Apakah sudah nampak Indikator pendidikankependidikan anak didik SD






5

Berapa besar pengaruh pendidikan Agama Islam terhadap rasa keberagamaan sisw anak didik SD






6

Berapa besar pengaruh pendidikan Agama Islam terhadap minat pada mata pelajaran lain






7

Berapa pengaruh pendidikan agama Islam terhadap ke disiplinan






8

Berapa besar pengaruh pendidikan agama Islam terhadap berbakti pada orang tua






9

Berapa besar pengaruh pendidikan agama Islam terhadap berbakti pada orang tua






10

Berapa besar pengaruh pendidikan agama Islam terhadap kepedulian pada lingkungan

















STANDAR KOMPETENSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SEKOLAH DASAR

BERCIRI KHAS ISLAM

OLEH

Usup Yusup

Pendahuluan

Undang – undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan reformasi pendidikan nasional (UU Sisdiknas 2003 member peluang yang luas untuk melakukan reformasi pendidikan di indonesia sebagai bagian integrasi dari upaya meningkatkan mutu pendidikan yang memenuhi standar mutu internasional. Konsep pendidikan dan manajemen pengelolaan sekolah dalam UU tersebut dapat dirujuk sebagai landasan operasional dalam melakukan pembaharuan, berbeda dari sistem pendidikan sebelumnya (UUSPN 1989 dan Kurikulum 1994), yang lebih berorientasi pada materi pengetahuan (Subject matter curriculum), sistem pendidikan yang didesain oleh Sisdiknas 2003 lebih berorientasi pada kompetensi. Sedemikian kuat komitmennya pada kompetensi, maka kurikulum 2004 yang dibangun berdsarkan sistem tersebut serat dengan tuntutan kompetensi, dan karenanya kurikulum ini lebih populer dengan sebutan kurikulum berbasis kompetensi (KBK)

Dengan telah ditetapkannya Sisdiknas 2003 dan kurikulum 2004, maka semua sekolah dalam segenap jenjang pendidikan yang diselengarkannya cepat atau lambat harus menyesuaikan diri. Sebab, peningkatan mutu pendidikan ujung tombaknya di sekolah- sekolah, bukan dikantor-kantor diknas. Untuk itu sosialisasi Sisdiknas 2003 dan kurikulum 2004 perlu terus digalakan, agar segenap unsur yang terlibat dalam pengelolaan pendidikan dapat segera mengimplementasikan dan mengadaptasikan sesuai dengan visi, misi, dan potensi yang dimilikinya ; tanpa kecuali pada sekolah yang berciri khas agama Islam(madrasah). Permasahanya, apakah para pengelola madrasah sudah memahami secara secara baik orientasi dan subtansi dari Sisdiknas 2003? Kemudian, sudah siapkah madrasah mengimplementasikan ketentuan-ketentuan yang ada didalamnya? sudahkah pengadaan sarana – prasarana dan penataan manajerial mulai diorientasikan ke arah itu? Sudahkah materi dan proses pembelajaran pendidikan agama Islam (PAI) didesain dalam orientasi kompetensi seperti yang diinginkan oleh sisdiknas 2003 tersebut?

Dalam kaitan dengan persiapan – persiapan itulah kiranya mencoba memudahkan penelitian dengan respon dari murid kelas IV , V, dan VI di SDN Sindanpanji berjumlah 90 orang. Namur penelitian ini tidak dimaksudkan untuk merumuskan bagaimana estándar kompetensi PAI, walaupun judulnya menghendaki seperti itu. Karena berbagai keterbatasan, selain seharusnya yang melakukan tugas ini adalah berbagai unsur seperi guru, penyelenggara pendidikan dan stakeholders, sesuai dengan kompetensi-kompetensi yang diharapakan penelitian ini hanya semacam “pengantar” untuk melakukan tugas kami yang berat ini.

Semangat sisdiknas 2003 dan kurikulum 2004

Siapapun yang akan mengimplementasikannya, langkah awal yangperlu dilakukan adalah memahami dengan seksama semangat dan subtansi dari sisdiknas 2003 dan kurikulum yang berlaku dengan caraini , akan dipahami mengana Sisdiknas dan kurikulum itu harus ada dan harus dilaksanakan; baru kemudian berusaha bagaimana melaksnakannya secara bertahap dan terencana, dengan tetap mengacu pada semangat, konteks historis, maupun dasar filosofisnya.

Dipahami bahwa kelahiran Sisdikana 2003 dan kurikulum 2004 antara lain dilatarbekangi oleh adanya ketidakpuasan terhadap mutu pendidikan nasional. Disadari bahwa selama ini realitas mutu pendidikan Indonesia dalam komparasi internacional, kualitasnya sngat rendah. Rendahnya mutu pendidikan itu terlihat pada beberapa indikator sebagai berikut :

  1. Bila fenomena tahun 1965-1975 banyak murid yang mengaji mengunakan tempat sederhana dan tradicional dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di jaman dulu itu pada tahun 200 ke sini kondisinya berbalik, banyak murid yang dikirim ke Malaysia untuk relajar di berbagai perguruan tinggi disana, dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan nasional Indonesia.
  2. Kinerja sistem pendidikan Indonesia berada pada peningkatan bungsu, yakni ke 12 dari 12 negara yang disurvai, satu peringkat di bawah Vietnam (survai the political and economcs risk consutation).
  3. Rendahnya mutu pendidikan nasional menghaslkan SDM bermutu rendah. Karena itu tidak heran bila SDM Indonesia belakangan ini menduduki peringkat ke 102 dari 106 negara yang disurvai, yakni berada satu peringka di bawah Vietnam dan Banglades
  4. Karena Crisis ekonomi yang berkepanjangan, jumlah penganguran saat ini mencapai 40 juta orang.
  5. Pada tahun 2002 jumlah lulusan yang tidak melanjutkan pendidikan mencapai 88,4 % dan Lulusan SMP 34,4%. Mereka tidak mampuh memasuki dunia kerja.
  6. untuk pelajaran IPA, siswa SMP Indonesia menempati posisi ke 32 dari 38 negara yang disurvai di Asia, Australia, dan Afrika (The Third Internacional Mathematic and Science Study Repeat, 1999).
  7. Budaza Instant, yang serba ingin cepat dalam meraih sesuatu, telah mengabaikan profesionalisme dan nilai-nilai cultural maupun spiritualitas.

Untuk keluar dari kondisi itu memerlukan berbagai perubahan di sampaing itu, tuntutan perubahan paradigma pendidikan diperlukan karena tantangan global dan pasar kerja. Dimaklumi bahwa secara internacional, tahun 2003 di mulai AFTA (Asean Free Trade Area) dan AFLA (Asean Free Labour Area). Artinya, persaingan produk dan tenaga menjadi terbuka. Untuk itu, sumber pendidikan nasional harus mampuh melahirkan lulusan yang berkualitas tinggi, baik dalam bidang akademik maupun keterampilan atau kecakapan hidup (Life Skill)-nya.

Dengan demikian, dilihat dari semangat dari yang melatarbelakanginya, Sisdiknas 2003 dan Kurikulum 2004 dapat dipandang sebagai alternatif yang sekaligus merupakan solusi dan antisipasi bagi peningkatan daya saing global. Ia pun dapat dipandang sebagai reformasi pendidikan dalam upaya mempercepat peningkatan mutu pendidikan Indonesia dalam komparasi international, yang diupayakan melaui pelaksanaan pendidikan berbasis kompetensi

Konsep dan Tujuan Pendidikan Nasional

Sisdiknas 2003 menawarkan satu paradigma baru pendidikan, yang tidak lagi hanya berorientasi pada kemampuan akademik, tetapi lebih berorientasi pada kemampuan hidup (Life Skill), atau lebih popular dengan istilah Kompetensi. Komitmennya yang kuat terhadap orientasi kompetensi terlihat pada konsep pendidikan yang diartikan sebagai “ usa sadar dan terencana untuk keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara” Pasal 1 ayat (1) Sisdiknas 2003)

Terkait dengan konsep pendidikan di atas, maka pendidikan nasional berfunsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa lepada tuhan Yang Maha Esa berakhlak mulia sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab (Pasal (3) Sisdiknas 2003

Tujuan pendidikan di atas harus diupayakn melaui proses pembelajaran pada semua jalar pendidikan, baik formal, nonformal, maupun informal, dengan didesain sedemikian rupa agar kondusif ke arah itu implikasi dari perubahan paradigma pendidikan meniscayakan adanya perubahan dalam berbagai hal termasuk dalam proses dan tujuan pembelajaran

Tujuan pembelajaran pada pendidikan berbasis kompetensi meliputi tiga dimensi, yaitu tujuan yang berorientasi pada penguasaan metode atau proses (Methodological objectives), pada penguasaan aplikasi kemampuan dasar dalam kehidupan (life skill objecives). Rumusan tujuan pendidikan berbasis kompetensi juga tetap berorientasi pada tiga domain, yaitu Kognitif (Keilmuan), Afektif (Nilai dan sikap) dan psicomotor (untuk kerja fisik manual), atau meliputi componen Ilmu, iman dan amal secara integrasi.

Dilihat dari konteks ini, maka pendidikan Islam yang merupakan subsistem dari pendidikan nasional diharapkan dapat memberikan kontribusi secara significan dalam mencapai tujuan pendidikan, khususnya dalam menjadikan manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa lepada TUhan yang Maha Esa serta dalam memberikan nilai - nilai spiritual dam moralitas bagi kehidupan bangsa. Saya Kira, inilah misi pendidikan Islam, termasuk misi yang harus dijabarkan oleh madrasah dalam penyelenggaraan dan pembelajaran pendidikan agama Islam.

Kompetensi dan standat kompetensi

Secara umum, perubahan paradigma dan sistem pendidikan yang ditawarkan Sisdiknas 2003 terletak pada orientasi yang lebih menekankan pada kecakapan hidup (Life Skill). Yakni Pendidikan yang memberikan kecapan personal, kecakapan social, kecakapan intelektual, dan kecakapan vokasional untuk bekerja atau usaha mandiri” (pasal 26 ayat (3) Sisdiknas 2003), untuk itu maka proses pembelajarannya harus berorientasi pada pemberdayaan, pembentukan watak dan kepribadian, serta berbagai kecakapan hidup (pasal 4 ayat (2) Sisdiknas 2003). Pendidikan yang berorientasi pada kecakapan hidup dicapai dengan penyelenggaraan pembelajaran yang berbasis kompetensi (competency –based intruction).

Kompetensi itu sendiri tak lain adalah sejumlah yang harus dicapai/ dikuasai siswa sebagai produk dan hasil relajar (product and outcomes). Ia merupakan perpaduan dari sejumlah kemampuan pengetahuan (knowledge),

Keterampilan (skill), nilai (value)0, sikap (attitude), dan minat (interest) sehingga lulusan pendidikan dapat melakukan sesutu secara mahir, dapat, berhasil, dan bertanggungjawab.

Kompetensi harus ada indikator –indikator yang jelas, karenanya perlu ditetapkan estándar kompetensi, sebagai kompetensi minimal yang harus dikuasai oleh siswa dari hasil belajarnya, yang meliputi,; estándar akademis (academia content standards) dan standar kompetensi (performance standars). Misalnya, untuk jenjang SD/SMP/SMA ditetapkan standar kompetensi pendidikan nasional sbb;

1. Memiliki keyakinan dan ketaqwaan sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya

2. Memiliki nilai dasar humaniora untuk menerapakan kebersamaan dalam kehidupan

3. Menguasai pengetahuan dan keterampilan akademik beretos belajar untuk melanjutkan pendidikan

4. Mengalihgunakan kemampuan akademik dan keterampilan hidup di masyarakat lokal dan global

5. Berekpresi dan menghargai seni

6. Menjaga kebersihan, kesehatan dan kebugaran jasmani

7. Berpartisipasi dan bernegara secara demokratis (Mulyasa, 2004;29).

Kompetensi Pendidikan Agama Islam

Berikutnya, tugas yang harus segera dilakukan oleh para pengelola dan tenaga kependidikan di madrasah (sekolah berciri khas agama Islam) adalah bagaimana mendeskrifsikan kompetensi pendidikan agama Islam, Bila Materi PAI terdiri atas pelajaran al-Qur’an-hadits, akidah-akhlak, fiqh-ushul-fiqh (syariah), sejarah kebudayaan Islam, dan bahasa arab, maka kompetensi apa yang diharapkan akan dicapai siswa setelah memepelajari materi-materi tersebut. Tentu tingkat kompetensi bervariasi sesuai dengan jenjang pendidikannya. Yang pasti adalah bahwa rumusan kompetensi untuk masing-masing pelajaran PAI tetap harus mencerminkan aspek kemampuan pengetahuan, nilai, sikap, dan keterampilan yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari,

Dalam istilah yang sederhana, kompetensi PAI terdiri atas integrasi antara iman, ilmu dan amal, yang bermuara pada kecakapan hidupp Islami, yakni berakhlak mulia dan berperan dalam kehidupan sebagai rahmatan li al-alamin. Dengan kompetensi seperti itu maka PAI diharapkan dapat melahirkan lulusan yang memiliki komitmen terhadap nilai-nilai agama Islam, menguasai ilmu pengetahuan tentang Islam, dan mampuh mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk akhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab, seperti yang diimpikan dalam tujuan pendidikan nasional. Bila ini terjadi, maka kehadiran madrasah akan semakin signifikan dan akan semakin terus diperhitungkan.

Sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun standar kompetensi dan kompetensi dasar PAI, berikut ini akan disajikan contoh rumusan standar kompetensi dan kompetensi dasar PAI dalam jenjang SD/SMP/SMA.

STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR

MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

No.

Standar Kompetensi

Kemampuan Dasar

1.

Mampuh mendiskrifsikan batasan agama Islam

v Mendeskrifsikan Pengertian Agama Islam

v Mengindentifikasi Ciri-Ciri Agama Islam

v Bagaimana membandingkan Islam dengan agama-agama lain

2.

Mendeskripsikan sumber ajaran Islam

v Mendeskrifsikan pengertian sumber ajaran Islam

v Mendeskrifsikan macam-macam sumber ajaran Islam

v Membandingkan antar masing-masing sumber ajaran Islam

3.

Mendeskripsikan kerangka dasar ajaran Islam

v Mendeskrifsikan pengertian kerangka dasar ajaran Islam

v Mendeskrifsikan kerangka dasar ajaran Islam

v Menganalisis hubungan antar masing-masing kerangka dasar ajaran Islam

4.

Mendeskripsikan kedudukan dan fungsi Al-quran

v Mendeskrifsikan pengertian Al-quran

v Menunjukan kedudukan Al-quran sebagai sumber ajaran Islam

v Mendeskrifsikan fungsi-fungsi Al-quran bagi manusia

v Mengaplikasikan ajaran yang terkandung dalam Al-quran

v Menunjukkan bahwa Al-quran benar-benar dari Alloh dan masih tetap otentik

5.

Mendeskripsikan kedudukan dan fungsi Al-sunah / hadist

v Mendeskrifsikan pengertian Al-sunah / hadist

v Menunjukan perlunya Al-sunah / hadist sebagai sumber ajaran Islam

v Mendeskrifsikan fungsi-fungsi Al-sunah / hadist terhadap manusia

v Mendeskrifsikan macam-macam Al-sunah / hadist yang pokok

v Mendeskrifsikan ajaran-ajaran yang terkandung dalam Al-sunah / hadist

6.

Menerapkan Aqidah Islam dalam kehidupan sehari-hari

v Mendeskrifsikan pengertian Aqidah Islam

v Menunjukan kedudukan Aqidah dalam Islam

v Mendeskrifsikan ruang lingkup Aqidah Islam

v Menerapkan rukun iman yang enam dalam kehidupan sehari-hari

7.

Menerapkan syariah Islam dalam kehidupan sehari-hari

v Mendeskrifsikan pengertian syariah Islam

v Menunjukan kedudukan syariah dalam Islam

v Mendeskrifsikan ruang lingkup syariah dalam Islam

v Menerapkan aturan syariah dalam kehidupan sehari-hari, dalam bidang ibdah maupaun muamalah

8.

Menerapkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari

v Mendeskrifsikan pengertian akhlak

v Menunjukan kedudukan akhlak dalam Islam

v Menidentifikasi macam-macam akhlak

v Menerapkan ketentuan-ketentuan akhlak dalam kehidupan sehari-hari

9.

Menggambarkan hubungan Islam dengan Ilmu

v Menceritrakan periodisasi sejarah Islam

v Menggabarkan perkembangan umat Islam diberbagai negara atau benua

v Menganalisis hunbungan antara Islam dengan Ilmu

v Mengambil hikmah dari perjalanan sejarah Islam

Deskripsi standar kompetensi PAI diatas merupakan contoh tidak memadai yang masih sangat bisa untuk dikiritisi. Setidaknya tidak dapat dimulai dari pertanyaan apa kah masing-masing kompetensi PAI itu sudahmencerminkan kemampuan Ilmu, Iman dan amal secara terintegrasi? Apakah sudah nampak indikator-indikatornya, kalau belum, berarti rumusan tersebut masih belum memenuhi standar kompetensi sebagaimana mestinya. Rumusan tentang standar kompetensi PAI sampai sekarang masih belum di definisikan dan dideskripsikan secara lebih opersional, apalagi sampai pada indikator-indikatornya. Padahal rumusan itu penting, bukan hanya efektifitivitas pembelajaran, melainkan juga agar kualifikasi dan sosok luluasan madrasah dapat identifikasi dengan jelas, berdasarkan kompetensi yang dimilikinya.

Dari hasil penelitian kami ternyata masih kecil dan sedang perlu menjadi bahan peningkatan masa berikutnya.

Belum tersusunnya standar kompetensi PAI merupakan salah satu indikator bahwa kesiapan madrasah dalam memberlakukan KBK masih rendah. Demikian pula kiranya bila dilihat dari segi kesiapan kepala sekolah, guru dan sarana prasarana, dan aspek-aspek managerial serta lingkungan masyarakat sekitarnya; walaupun keinginan dan optimisme kearah itu sudah cukup tinggi itulah penomena madrasah pada umumnya. Bagaimana halnya dengan madrasah-madrasah di Majalengka, apakah sudah siap menerapkan KBK? Mudah-mudahan forum ini dapat menjawabnya.

Rabu, 17 Desember 2008

STAISA JAKARTA

TELAAH KAJIAN PENELITIAN

AGAMA ISLAM DENGAN MATEMATIKA

Oleh :

USUP YUSUP

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

DENGAN MATEMATIKA

Seorang ibu memanggil anaknya gadisnya untuk pergi berbelanja ke pasar, agar tidak lupa, sang anak disuruh mencatat jenis barang yang akan dibeli serta harganya.

” catat baik-baik”! Perintah sang ibu, dan sang anakpun dan sang anak pun mengangguk sambil bersiap-siap mencatat.

” beras 2 liter, harganya Rp. 2.000,-”

”Ikan laut basah ( ikan kembung banjar) 1 Kg harganya Rp. 3.500,-”

”Minyak goreng 0,5 kg harganya 1.450,-”

”Bawang cabai merah, kunyit dan bumbu-bumbulain Rp. 1.500,-”

Coba hitung ! berapa jumlah seluruhnya”! Perintah sang ibu, sang anakpun mulai menghitung,: ”Rp. 2.000,- + Rp.3.500,- + Rp. 1.450,- + Rp. 1.500,- = Rp. 8.450,- ( delapan ribu empat ratus lima puluh rupiah) bu”, jawab sang anak. Tanpa banyak bicara lagi sang ibupun membuka dompet dan mengambil uang tersebut kepada anak gadisnya sambil berkata: ”jangan lupa kembaliannya Ya”. ”Baik bu”. Jawab sang anak singkat dan bergegas pergi kepasar untuk berbelanja.

Gambaran singkat dan sederhana di atas menunjukan bahwa soal hitung yang terdiri atas : penjumlahan, pengurangan pembagian dan perkalian merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh setiap orang, siapapun dia

Dengan kata lain ilmu hitung atau al jabar ( kalkulus) yang sekarang lebih dikenal dengan “ Matematika” sudah ada sejak zaman dahulu kala dan merupakan sesuatu kegiatan yang sangat dibutuhkan dalam berbagai aspek kehidupan manusia sehari-hari termasuk kegiatan keagamaan.

Dalam sejarah atau tepatnya pada masa kejayaan islam sekitar abad VII-VIII M. banyak sekali bermunculan cendikiawan-cendikiawan muslim terkenal yang menggeluti ilmu hitung menghitung ini. Antara lain JABIR IBNU HAYYAN, ALKHOWARIZMI, AL BIRUNI dan lain-lain, disamping pelopor ilmu matematik, mereka juga terkenal sebagai pelopor ilmu kimia, fisika dan astronomi. Hal ini membuktikan bahwa umat islam adalah ummat islam adalah ummat yang maju dan tampil paling depan dalam berbagai hal, karena Allah SWT telah mengatakan :

Artinya : “ dan dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa dibumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian(yang lain) beberapa derajat ...” ( Qs. AlAn’am : 165).

Ayat tersebut memberi isyarat bahwa sebagai Khalifah Fil Ardi ( penguasa di muka bumi ) umat islam perlu membekali diri dengan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kesejahtraan ummat manusia.

Berdasarkan fakta hasil kajian sejarah diatas, apalagi bila dikaitkan dengan era transformasi global sekarng ini, nampaknya pendidikan agama islam yang diberikan disekolah sudah saatnya melangkah kedepan dan lebih maju, dalam arti tidak hanya berkutat atau berputar-putar disekitar subtansi materi pendidikan agama islam itu saja, tapi hendaknya juga berusaha mengkorelasikannya dengan materi pelajaran lain termasuk ilmu matematika.

1. Zakat Mal ( Harta Kekayaan )

Untuk menentukan batas jumlah hartanya yang wajib dizakatkan (nisab) dan kadar zakat yang dikeluarkan tidak kurang dari yang seharusnya dibayarkan oleh wajib zakat. Misalnya : Jenis harta yang dizakatkan yaitu emas. Nisabnya atau batas minimalnya emas yang dimiliki adalah 20 dinar atau 93,6 gram. Kadar zakat yang harus dikeluarkan 2,5 %. Yaitu 93,6 x 2,5 % = 2,34 gram. Bila harga emas per 1 gram = Rp. 27.000,- maka zakatnya adalah Rp. 27.000,- x 93,6 x 2,5 % = Rp. 63.180,- dan seterusnya.

2. Warisan

Untuk menentukan jumlah harta warisan yang seharusnya diterima oleh para ahli waris secara adil dan sesuai dengan ketentua Allah SWT juga sangat diperlukan perhitungan –perhitungan yang cermat. Misalnya

Ahli waris :

Suami : ¼ = 3/12

Ibu : 1/6 = 2/12 Jumlah 7 / 12

Bapak : 1/6 = 2/12

Asobah : 12/12 – 7/12 = 5/12

(2 anak perempuan dan 1 anak laki-laki) = Asobah : 5/12.

Jumlah harta warisan misalnya Rp. 240.000,- maka pembagiannya adalah sebagai berikut :

Suami : 3/12 x Rp. 240.000,- = Rp. 60.000,-

Ibu : 2/12 x Rp. 240.000,- = Rp. 40.000,-

Bapak : 2/12 x Rp. 240.000,- = Rp. 40.000,-

Asobah : 5/12 x Rp. 240.000,- = Rp. 100.000,-

Dua (2) anak perempuan mendapat bagian : 2

Satu (1) anak lai-laki mendapat bagian :

2/4 x Rp. 100.000,- : 1 = Rp. 50.000,-

Dua contoh sederhana diatas menunjukan bahwa perencanaan di atas menunjukan bahwa peranan ilmu hitung (matematika) begitu, penting, baik dalam pembagian zakat maupun warisan, tanpa pengetahuan berhitung dikhawatirkan pembagian zakat atau warisan tidak sesuai dengan ketentuan yang telah digariskan oleh agama.

3. Ilmu matematika juga berperan dalam membantu peribatan, seperti menentukan arah kiblat pada satu posisi di permukaan bumi, dengan perhitungan-perhitungan matematis tertentu orang membuat kompas arah kiblat, sehingga dimanapun kita berada kita dapat mengetahui arah kiblat dengan tepat.

Di samping itu dengan rumus matematika orang dapat membuat jadwal waktu shalat di berbagai tempat. orang juga dapat menentukan awal bulan Qomariah, penentuan awal Ramadhan, syawal, Dzulhijjah dan sebagainya dengan mudah. Orang dapat menghitung berapa derajat ketinggian bulan di atas ufuk, berapa derajat lintang utara/ selatan, berapa derajat bujur timur/ barat dan seterusnya.

Dari contoh-contoh yang dikemukan di atas menunjukan bahwa mempelajari dan memahami ilmu matematika walaupun dalam tingkat yang sederhana seperti tentang fungsi kuadrat. Pola bilangan dan barisan bilangan, trigonometri, logaritma dan lain-lain, merupakan satu hal, merupakan satu hal penting dalam menjelaskan dan menjabarkan materi pendidikan agam islam secara teliti dan cermat.

Ketelitian dan kecermatan merupakan inti dalam mempelajari matetika dan hal ini pulalah yang dituntut dalam ajaran islam sebagaiman diisyarakan dalam Al-Qur’an surat Al Mudatsir ayat 30 sebagai berikut :

Artinya : “ Di atasnya ada 19 (sembilan belas) malaikat penjaga”. (Qs. Al Mudatsir ): 30)

Pernyataan mengapa 19 ?

Kita dapat memahami bahwa angka 19 merupakan angka ganjil yang tidak terbagi, yaitu gabungan angka awal (1) dan angka akhir (9). Bila diteliti dan dicermati, maka angka ini banyak mengandung makna yang berkaitan dengan ayat-ayat ( tanda-tanda kekuasaan Allah)

Misalnya : “ pola telapak kaki dan telapak tangan “ yang ditulis dalam shuhuf Mutthorharoh 2 oleh fahmi basya Hamadi” sebagai berikut : ruas jari laki manusia 19 dan ruas jari tangan juga 19. jadi ruas jari dua kaki dan dua tangan adalah 19 + 19 + 19 + 19 = 76 (nomor kode manusia). Kebetulan surat nomor 76 disebut surat manusia (Al Insan)

Tanggal penting bagi manusia (khususnya umat islam) juga berjumlah 76.

Nabi Muhammad SAW lahir : 12 Rabiul Awal

Idul Fitri (lebaran) : 1 Syawal

Idul Adha (Idul Qurban) : 10 Dzulhijjah

Hari Arafah(wukuf) : 9 Dzulhijjah

Wahyu Pertma : 17 Ramadhon

Mikraj Nabi(perintah shalat) : 27 Rajjab

Jumlah 76

Jumlah tanggal 76 merupakan kelipatan dari 19 x 4.

Jumlah bilangan raka’at shalat adalah 24434 yang merupakan bilangan persial 2, 4, 4, 3, 4, yaitu : shubuh 2 rakaat, zuhur 4 rakaat, ashar 4 rakaat, magrib 3 rakaat dan isya 4 rakaat, Ternyat urutan ini adalah : n x 19, Jika digabungkan menjadi 24434 = 1286 x 19 dan seterusnya

Kalimat terdiri atas 19 huruf, yaitu :

Dalam kalimat terdapat 4 suku kata terpenting yang di ulang-ulang dalam Al-Quran dengan jumlah yang juga merupakan kelipatan 19 , yaitu :

= 19 (19 x 1)

= 2.698 (19 x 142)

= 57 (19 x 142)

= 114 (19 x 6)

Jumlah seluruh suarat dalam al-Qur’an adalah 114 yang juga merupakan kelipatan 19 (19 x 6).

Surat pertama yang diterima nabi muhammad Saw adalah surat Al’Alaq. Jumlah ayatnya ada 19 dan merupakan surat dengan nomor urut 19 sebelum surat terakhir .5 (lima) ayat pertama juga mempunyai kat-kata yang berjumlah 19. banyak lagi contoh-contoh lain yang bila kita cermati dan teliti secara matematis akan semakin jelas tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah yang terdapat pada diri kita sendiri dan di alam semesta ini sebagaimana diisyaratkan dalam al Qur’an surat Fushshilat ayat 53

Artinya : “kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk (kosmos) dan pada diri mereka sendiri, jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu benar...”. Fushshilat ayat 53

Berdasarkan uraian singkat di atas kiranya dapat dipahami bahwa keterkaitan antara pendidikan agam dengan ilmu matematika (Ilmu hitung) begitu dekat dan saling mendukung



HASIL KAJIAN PENULIS



Judul telaah kajian penelitian terhadap ayat suci al-Qur’an Firman Allah SWT, ternyata seluruh ilmu pengetahuan dan teknologi adalah semua bersumber dari Al Qur’an, tetapi pemahaman manusia ummat islam sepertinya ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya “MATEMATIKA ! bukan pendidikan Agama

  1. Hitung menghitung di Al-Qur’an “HISAB atau Al-Hisab (Matematika)” atau (Al-Jabar) (Kalkulus) suda ada sejak jaman dahulu kala
  2. Abad kejayaan islam sekitar abad 7, 8, M , banyak sekali cendikiawan cendikiawan muslim , antara lain JABIR IBNU HAYAN , Al KHOWARIZMI dan Al-BIRUN
  3. Banyak keterkaitan ilmu hitung antara lain
    1. ZAKAT MAL
    2. MAWARIS
    3. Untuk Menetukan Arah
    4. Jadwal Waktu Shalat
    5. Menentukan Awal Bulan Qomariyah
    6. Menentukan bulan Romadhon, Syawal dan bulan Dzulhijjah

Oleh sebab itu sudah saatnya guru pendidikan agama islam mengkaitkannya dengan Matematika dalam arti materi-materi pendidikan agama islam yang perlu dijabarkan dengan perhitungan-perhitungan yang di teliti dan cermat seperti contoh di atas sebaliknya guru matematika (yang beragama islam) sedapat mungkin juga mempelajari materi pendidikan agama islam, sehingga pada saat mengajarkan matematika, yang bersangkutan dapat mengkorelasikan dengan pendidikan agama islam. Bila hal ini terlaksana dengan baik, diharapkan para siswa termotivasi untuk menekuni ilmu matematika sekaligus juga menekuni pendidikan agama islam.

Sebagian besar cendekiawan muslim berpendapat bahwa kunci imtaq (iman dan taqwa) adalah pendidikan agama islam dan kunci Iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) matematika. Karena ilmu matematika ternyata bukan hanya terbatas pada soal hitung menghitung, tapi juga sangat berperan dalam mengencerkan (mencerdaskan) otak. Lemah dalam matematika mengakibatkan lemah dalam mempelajari ilmu lain, sebaliknya bila hebat dalam ilmu matematika, maka ilmu-ilmu lain akan mudah diserap dan dipahami.



















Mujatahid muqayyad (mujtahid terikat).

Mereka adalah kelompok ulama mujtahid yang memiliki kemampuan untuk mengkiaskan keterangan-keterangan yang disampaikan oleh imam mazhab, untuk memecahkan permasalahan baru yang tidak terdapat dalam keterangan-keterangan ulama mazhab. Pendapat hasil ijtihad ulama pada tingkatan ini disebut dengan “al-wajh”. Terkadang, dalam satu mazhab, para ulama dalam mazhab tersebut berbeda pendapat, sehingga sering dijumpai dalam penjelasan di buku fikih, pada suatu permasalahan terdapat sekian wajh. Artinya, dalam permasalahan itu terdapat sekian pendapat dalam mazhab tersebut. Di antara ulama yang berada di tingkatan ini adalah adalah Imam Ath-Thahawi, Al-Kurkhi, dan As-Sarkhasi, yang semuanya merupakan ulama dari Mazhab Hanafi. Sementara mujtahid muqayyad dari Mazhab Maliki di antaranya adalah Al-Abhari dan Ibnu Abi Zaid Al-Qairuwani. Sedangkan mujtahid dari kalangan Mazhab Syafi’i adalah Abu Ishaq Asy-Syirazi, Ibnu Khuzaimah, dan Muhammad bin Jarir. Adapun dari kalangan Mazhab Hambali, di antaranya adalah Al-Qadhi Abu Ya’la dan Al-Qadhi Abu Ali bin Abu Musa rahimahumullah.

Pengertian Muqayyad
Muqayyad secara bahasa artinya sesuatu yang terikat atau yang diikatkan kepada sesuatu. Pengertian secara istilah ialah suatu lafadz yang menunjukkan hakikat sesuatu yang terikat dengan suatu seperti sifat. Contohnya ialah lafadz “raqabah mukminah” (hamba sahaya yang beriman) yang terdapat dalam firman Allah :

وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ (النساء:93)

“Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman”.




Masyarakat muttaqun, yaitu masyarakat yang takut dan cinta serta hormat kepada Allah SWT, melaksanakan segala perintahnya serta menjauhi laranganNya.